Pelepasan Pesepeda HPSN 2023, Direktur Pengurangan Sampah-Ditjen. PSLB3 KLHK “Jelajah Bersih Negeri” ajang mengingat kembali perjalanan panjang Indonesia dalam mewujudkan Indonesia Bersih
Pelepasan Pesepeda HPSN 2023, Direktur Pengurangan Sampah-Ditjen. PSLB3 KLHK “Jelajah Bersih Negeri” ajang mengingat kembali perjalanan panjang Indonesia dalam mewujudkan Indonesia Bersih
Dalam Rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2023, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berkampanye melalui bersepeda "Jelajah Bersih Negeri". Touring bersepeda ke berbagai daerah menjadi salah satu ajang kampanye untuk menguatkan rantai nilai pengelolaan sampah dan mewujudkan pengelolaan dampak menuju emisi net zero. Hal ini sejalan dengan tema besar dari HPSN tahun 2023 yaitu Tuntas Kelola Sampah untuk Kesejahteraan Masyarakat.
Pesepeda berkampanye melintasi 2 Jalur yaitu Utara dan Selatan. Rute Jalur Utara dimulai dari Denpasar, Bali; dengan titik persinggahan di Banyuwangi, Jawa Timur; Pasuruan, Jawa Timur; Surabaya, Jawa Timur; Kabupaten Tuban, Jawa Timur dan Indramayu, Jawa Barat. Sedangkan Rute Jalur Selatan dimulai dari Kabupaten Bantul, Yogyakarta; Purwokerto, Jawa Tengah; Cilacap, Jawa Tengah; Bandung, Jawa Barat; Depok, Jawa Barat. Semua jalur baik Utara maupun Selatan bertemu pada garis finish di Jakarta. Saat melintasi jalur tersebut pesepeda mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan yang ramah lingkungan (Low Emisi) sekaligus berinteraksi dengan Pemerintah Daerah dan komunitas lainnya untuk meningkatkan ampifikasi kampanye HPSN 2023.
Dari Jalur Rute Selatan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, pesepeda dilepas oleh Ibu Sinta Saptarina - Direktur Pengurangan Sampah, Ditjen. PSLB3-KLHK. Dalam sambutannya pada acara pelepasan tersebut disampaikan “Indonesia telah mengundangkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, seluruh kabupaten/kota didorong untuk melaksanakan pengelolaan sampah melalui 2 (dua) pendekatan yaitu Pengurangan Sampah dan Penanganan Sampah. Upaya Pengelolaan Sampah tidak bisa diselesaikan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah saja, tetapi perlu melibatkan seluruh komponen masyarakat, karena sumber sampah berada di sekitar kita seperti Rumah Tangga, Industri, Pasar, dan dari berbagai aktifitas manusia lainnya. Ini menjadi persoalan yang harus ditangani serius dan butuh perhatian kita semua“ Selasa (14/2).
Lebih lanjut disampaikan saat di Bank Sampah Gemah Ripah, Kab. Bantul, Yogyakarta, “Pendekatan ekonomi linier dalam pengelolaan sampah dengan ciri khas make, consume, dan dispose, harus digantikan dengan ekonomi sirkular dengan memegang prinsip regenerate natural system, design out of waste, dan keep product and material in use melalui strategi elimination, reuse, dan material circulation dengan menjalankan phase out barang dan kemasan barang sekali pakai, redesign barang dan kemasan barang agar tahan lama (durable), dapat dikembalikan untuk diguna ulang (returnable and reuseable), dapat didaur ulang (recyclable), mudah diperbaiki (repairable), dapat diidi ulang (refillable), dapat di-charge ulang (rechargable), dan dapat dikomposkan (compostable)”.
“Bapak Bambang Suwerda sebagai pendiri dan penggagas Bank Sampah di Indonesia, yang memperkenalkan kepada kita semua metode pengumpulan dan pemilahan sampah di tingkat tapak dan membawa manfaat bagi pelaksananya. Saat ini, Bank Sampah dapat berkembang melalui dukungan pendanaan, semakin menekankan fungsi sebagai sarana edukasi, perubahan perilaku dan ekonomi sirkular dengan mekanisme yang lebih terstruktur” ujarnya.
Sebelum dilepas pesepeda, pada kesempatan itu pula ada sebanyak 100 orang mendapat pelatihan pengomposan serta penyerahan sertifikat pelatihan dan buku jurnal research daerah yang dilaksanakan di Halaman Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kab. Bantul, Yogyakarta dan hadir Bapak Ari Budi Nugroho, ST, M.Sc - Kepala DLH Kab. Bantul, Yogyakarta.
